Bunda datang dengan warna abu-abu dan emas. Dia sujud sebelum Eukaristi. Dia berkata: "Berikan pujian, kehormatan dan kemuliaan kepada Yesus, yang selalu hadir dalam Sakramen Suci ini di Meja Mahkota." Aku menjawab, "Sekarang dan selama-lamanya." "Utusan kecilKu, apa yang paling Ku inginkan untuk disampaikan kepadamu adalah seberapa besar Yesus bergantung pada jiwa-jiwa yang telah mengabdikan diri dengan sungguh-sungguh kepada Salib. Jiwa-jiwa ini terendam dalam Cinta Suci dan meniru Hati AnakKu yang Mahatinggi. Tanpa Cinta Suci, jiwa-jiwa menolak salib di hidup mereka, tidak melihat keindahan dalam ujian-ujian yang ditawarkan untuk kebaikan orang lain."
"Iblislah yang menyembunyikannya semua dari jiwa-jiwa yang bukan anak-anak. Karena dengan kepandaian, bingung dan keraguan ditanamkan. Yesus memiliki seorang rasul yang berpandangan luas. Dia tidak memiliki Cinta Suci, tetapi cinta diri sendiri. Cinta Suci adalah sederhana, tak mengenal diri, dan rendah hati. Begitulah Cinta Suci membolehkan jiwa melihat melalui tujuan duniawi dan mencari hanya pujian surga. Sangat penting pada hari-hari ini bahwa jiwa-jiwa melihat nilai besar Salib, melaluinya keselamatan mengalir terus-menerus. Oleh karena itu, doakan agar menjadi anak-anak dalam setiap kebajikan tetapi terutama Cinta Suci. Biarkan roti harianmu adalah kegembiraan Salib melalui Cinta Suci."